Info Madrasah
Sabtu, 04 Des 2021
  • Vaksinasi Dosis 2 - Siswa MTs Negeri 1 Lebak - Kamis, 30 September 2021
22 Oktober 2021

Urgensi Penguatan Pembelajaran Jurnalistik dan Konten Media Sosial di Sekolah

Jumat, 22 Oktober 2021 Kategori : Pendidikan

Oleh Hj. Elsyeu Ediyanti, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia MTsN 1 Lebak

Pada Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2017 di Pekanbaru, Riau, heboh ketika ada siswa sekolah dasar ingin menjadi YouTuber ketika berdialog dengan Presiden Joko Widodo. Anak itu bernama Rafia Fadila, siswa kelas VI SDN 36 Pekanbaru.

“Jadi YouTuber, Pak” jawab Rafi ketika ditanya Presiden tentang cita-citanya. Jawaban spontan Rafi disambut meriah oleh pelajar yang hadir pada acara itu. Para pejabat negara, pejabat daerah, dan para undangan pun terlihat tersenyum mendengar jawaban Rafi yang beralasan bahwa jadi YouTuber itu jika banyak subscriber-nya bisa menghasilkan uang. Menyikapi keterangan Rafi, Presiden dengan bijak mengungkapkan, setiap anak boleh bercita-cita apa saja asalkan keinginan itu baik dan diiringi dengan semangat belajar yang tinggi.

Bercermin dari peristiwa tersebut, pemanfaatan internet dan platform media sosial dalam kehidupan sosial kini nyaris tak mengenal batasan usia. Bahkan tanpa disadari balita pun sudah diperkenalkan dengan kegunaan smartphone sebagai media permainan dan hiburan. Misalnya disuguhkan tontonan dari YouTube supaya tidak menangis atau rewel.

Di era digital, pengguna internet dan media sosial di dunia, termasuk di Indonesia, setiap tahun meningkat. Peningkatan ini menunjukkan bahwa internet dan media sosial sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan aktivitas masyarakat.

HootSuite, sebuah situs layanan manajemen konten yang menyediakan layanan daring yang juga terhubung dengan berbagai situs jejaring sosial pada Februari 2021 merilis data pengguna internet dan media sosial. Dari populasi atau jumlah penduduk dunia sebanyak 7,83 miliar, sebanyak 4,66 miliar menggunakan internet atau 59,5 persen dari jumlah populasi. Sedangkan pengguna media sosial aktif sebanyak 4,20 miliar atau 53,6 persen dari jumlah populasi.

Sedangkan di Indonesia dari 274,9 juta penduduk, 202,6 juta adalah pengguna internet  atau 73,7 persen dari jumlah penduduk. Untuk pengguna media sosial aktifnya sebanyak 170 juta atau 61,8 persen dari jumlah penduduk.

Dari segi usia, generasi milenial yang disebut generasi Y dan generasi Z mendominasi penggunaan media sosial di Indonesia. Rentang usia mereka antara 25-34 tahun. Hampir semua mengakses media sosial menggunakan perangkat smartphone. Adapun platform media sosial yang digunakan yaitu YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, TikTok, dan lainnya.

Meskipun pengguna internet dan media sosial mayoritas berusia 25-34 tahun, namun pengguna internet pada kelompok usia sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah, ada kecenderungan naik pada masa pandemi dengan diberlakukannya kebijakan pembelajaran secara online atau dalam jaringan (daring). Mereka yang tidak biasa atau bahkan sama sekali belum bersentuhan dengan dunia maya dan memiliki perangkat smartphone dan laptop, dituntut untuk dapat beradaptasi. Akhirnya dampak yang ditimbulkan dari hal itu, mereka tidak hanya memanfaatkan internet untuk mendukung aktivitas belajar, juga untuk aktivitas bemedia sosial dan bermain gim. Aplikasi YouTube, Instagram, dan TikTok merupakan aplikasi media sosial yang paling banyak disukai kalangan pelajar.

Internet dan media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi memiliki dampak positif atau bermanfaat bagi kehidupan sosial. Di sisi lain ada negatif yang ditimbulkan. Bahkan dampak negatif ini jika tidak diantisipasi sejak dini, bahayanya akan lebih berat terhadap perkembangan mental. Kelompok pelajar ini menjadi salah satu pihak yang berpotensi menjadi korban hoaks, pornografi, bullying, dan lainnya di media sosial.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika serta  sejumlah lembaga lainnya di Indonesia menyadari akan dampak negatif internet dan media sosial melalukan upaya preventif dengan mengadakan program  literasi digital. Literasi digital ini antara lain untuk memberikan pahaman tentang manfaat, dampak negatif, risiko hukum, dan cara bijak memanfaatkan media sosial.  Adapun sasaran dari program literasi digital antara lain guru dan pelajar.

Keterlibatan guru di sekolah untuk memberikan literasi digital sangat penting. Terutama kepada pelajar di tingkat pertama (madrasah tsanawiyah/MTs dan SMP) sebagai kelompok pemula yang beranjak melek dengan internet dan media sosial, yang dikhawatirkan luput dari pengawasan orangtua. Pihak sekolah sebagai lembaga perpanjangantangan pemerintah dalam urusan pendidikan dapat berbagi peran dengan orangtua dalam pengawasan dan pemanfaatan internet dan media sosial.

JURNALISTIK DAN KONTEN DIGITAL

Sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal manfaat internet dan berbagai jenis aplikasi dan media sosial dari dunia maya itu sendiri. Setelah memiliki smartphone dapat berselancar dan mendapatkan informasi dari mesin pencari yang bernama Google. Bahkan ketika bertanya kepada siapa pun tentang berbagai persoalan, jawabannya “cari saja di Google”. Search engine itulah tempat menemukan jawabannya.

Begitu pula mengenal dan memanfaatkan media sosial, di era digital ini semua belajar secara otodidak. Sebuah proses belajar secara mandiri tanpa ada bimbingan guru. Sekelas influencer dengan follower banyak pun mayoritas belajar otodidak. Namun akhir-akhir ini bermunculan lembaga-lembaga di dunia maya yang menawarkan kursus singkat secara daring tentang media sosial, membuat konten, cara memanfaatkan media sosial untuk bisnis, dan lain sebagainya.

Inovasi dan kreativitas di dunia maya berkembang dengan cepat. Lembaga pendidikan formal, dalam hal ini sekolah, seolah-olah tertinggal. Bahkan untuk pemanfaatan media sosial, para guru jauh tertinggal oleh anak didiknya.

Namun demikian, sekolah adalah tempat menempa moral dan etika kepada anak didik, termasuk di dalamnya mendidik para pelajar agar memiliki etika dalam bermedia sosial dan memiliki kecakapan memanfaatkan internet dan media sosial untuk masa depan mereka. Ketika mereka tumbuh besar dengan beragam aktivitas dan  profesinya di kemudian hari, kemungkinan besar tidak akan terlepas dari media sosial dan mereka telah memiliki mental dan moral yang baik bermedia sosial.

Media sosial  yang kini menjadi alat  menyampaikan berbagai informasi warga kepada publik dan menciptakan interaksi. Transformasi dua arah dan dapat saling berbagi ini  menyebabkan sebuah informasi menyebar dengan sangat cepat. Orang-orang yang aktif di dunia maya yang kemudian disebut dengan netizen (citizen of the net) atau warga internet.

Di sinilah sekolah memiliki peran dan tanggung jawab untuk melahirkan netizen yang terdidik dan transformatif. Siswa memiliki kecakapan menyampaikan informasi secara akurat salah satunya  dengan cara memberikan penguatan pengetahuan dasar tentang jurnalistik dan multimedia. Di MTs, pembelajaran jurnalistik ada pada pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII bab I. Siswa diperkenalkan tentang  berita dan unsur-unsur berita (Apa, Siapa,  Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana).  Untuk itu perlu ada penguatan dalam praktiknya yang dihubungkan dengan pemanfaatan media sosial. Siswa diarahkan untuk membuat berita atau menyampaikan informasi di lingkungannya melalui media sosial yang mereka miliki. Melalui cara ini, guru dapat memiliki tolok ukur atau standardisasi minimum kemampuan siswa memanfaatkan media sosial untuk tujuan pendidikan, mengasah keterampilan siswa sebagai netizen, dan mengarahkan siswa untuk membuat konten media sosial yang memiliki manfaat besar untuk kehidupan masyarakat.

Penguatan pembelajaran dasar-dasar jurnalistik dan konten digital juga dapat dilakuan melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Dulu, setiap sekolah memiliki majalah dinding. Kini sudah berubah. Semua sekolah memiliki website dan akun media sosial. Optimalisasi media komunikasi itu dapat dilakukan dengan melibatkan partisipasi siswa sebagai pengisi kontennya.

Melalui upaya tersebut diharapkan para pelajar lebih banyak lagi mengonsumsi konten-konten media sosial yang diproduksi oleh kalangan dunia pendidikan. Pertautan konten media sosial antar sekolah yang diproduksi oleh siswa dan pendidik dengan kaidah jurnalistik dan tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, setidaknya dapat memberikan warna bagi penyebaran  informasi dan hiburan yang sehat dan mendidik, serta akurat.

ER 211869

11 Komentar

Achmad Taufik Hidayat, ST , Senin 1 Nov 2021

Sangat baik untuk dibaca, cara penulisan dan kata kata yang disajikan sangat baik. Terima kasih atas informasi semoga bermanfaat

Balas
Elsyeu , Senin 1 Nov 2021

Terima kasih apresiasi nya kang mpik semoga ini menjadi motivasi menulis saya selanjut nya untuk lebih baik lagi…

Balas
Frinza salsabila , Senin 1 Nov 2021

Sangat baik untuk di baca bu, sangat bermanfaat untuk kita semua bu, sangat bermotivasi bu, untuk kita semua.
Terimakasih semoga bermanfaat

Balas
Mentari Rahmah 7b , Senin 1 Nov 2021

Artikel yg snagat bermanfaat dan jadi motivasi agar lebih bijak menggunakan sosial media .

Balas
Riyandra , Senin 1 Nov 2021

Tulisannya baik memotivasi siswa utk gemar menulis

Balas
AC , Senin 1 Nov 2021

Sangat relevan.

Balas
Gilang , Senin 1 Nov 2021

Saya terimakasih atas pembelajaran² lainnya saya sedikit dapat ilmu dari situ

Balas
Frizqyndah Thurfa Iriawan , Selasa 2 Nov 2021

memberikan penguatan pengetahuan dasar tentang jurnalistik dan multimedia.

Balas
Siti Salamah 7b , Selasa 2 Nov 2021

Artikel nya sangat memotivasi siswa agar bisa mengguna sosial media dengan bijak dalam bermain smartphone

Balas
Frizqyndah Thurfa Iriawan , Selasa 2 Nov 2021

Memberikan pengetahuan dasar tentang jurnalistik dan multimedia

Balas
Rahh , Rabu 3 Nov 2021

Sangat bermanfaat sekali, dan mudah di pahami

Balas

Tinggalkan Komentar

 

Instagram

Something is wrong.
Instagram token error.
Follow
Load More

Maps