Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan,
Pernahkah kalian bertanya-tanya, apa yang terjadi di balik pintu ruang guru setelah bel pulang sekolah berbunyi?Mungkin kalian mengira kami langsung bersantai, menikmati teh hangat sambil mengobrol ringan.
Ah, andai saja sesederhana itu.
Di balik senyum yang selalu kami coba tampilkan di depan kelas, tersimpan sisi manusiawi yang sama seperti orang tua kalian di rumah. Kami juga bisa merasa lelah. Sangat lelah.
Bayangkan, Nak. Setiap hari kami harus menghadapi ratusan karakter yang berbeda-beda. Ada yang semangat belajarnya tinggi, ada yang butuh dorongan ekstra. Ada yang penurut, ada juga yang sedang di fase "mencari jati diri" dengan cara yang kadang menguji kesabaran. Belum lagi tumpukan tugas administrasi—RPP, silabus, penilaian, laporan—yang seolah tak ada habisnya, menuntut fokus di saat mata sudah terasa berat.
Terkadang, saat sampai di rumah, energi kami sudah benar-benar terkuras. Kami adalah ayah, ibu, suami, atau istri yang juga ditunggu oleh keluarga. Rasa lelah itu nyata, Nak.
Lalu, apa yang membuat kami bertahan? Apa yang membuat kami rela bangun pagi-pagi buta dan kembali berdiri di depan kelas dengan semangat yang baru?
Jawabannya bukan pada gaji atau pujian. Jawabannya ada pada satu kata: Lillah (Karena Allah).
Semua rasa lelah itu seketika menguap saat kami melihat satu di antara kalian berubah menjadi lebih baik. Saat siswa yang dulunya malas, tiba-tiba mengangkat tangan untuk bertanya. Saat siswa yang dulunya sering melanggar aturan, kini menjadi imam sholat dhuha dengan khusyuk. Saat kalian menatap kami dengan binar mata yang berkata, "Terima kasih, Bu/Pak, saya sekarang paham."
Momen-momen kecil itulah bayaran termahal bagi kami. Melihat kalian tumbuh menjadi pribadi yang berilmu dan beradab adalah kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan materi. Itu adalah bukti bahwa lelah kami tidak sia-sia, bahwa ada jejak kebaikan yang kami tanamkan di hati kalian.
Anakku, kami tidak meminta kalian menjadi sempurna. Kami hanya ingin kalian terus berusaha menjadi versi terbaik dari diri kalian. Karena di setiap usaha kalian, ada doa dan harapan kami yang tak putus-putus.
Semoga Allah mencatat setiap tetes keringat kami sebagai amal jariyah, dan menjadikan kalian anak-anak yang sholeh dan sholehah. Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Tertanda,Gurumu, yang Menyayangimu karena Allah
Fajar Satria Utama, S.Kom., M.Pd.