Anak-anakku siswa-siswi MTsN 1 Lebak yang Bapak banggakan,
Siapa di sini yang ingin jadi juara kelas? Siapa yang ingin nilai rapornya penuh dengan angka 90 dan 100? Tentu semua ingin, ya. Menjadi pintar itu luar biasa. Allah sendiri meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.
Namun, pernahkah kalian mendengar sebuah pepatah Arab yang sangat masyhur di kalangan pesantren dan madrasah:"Al-Adabu fauqal 'ilmi"? Artinya, Adab (sopan santun/akhlak) itu posisinya berada di atas ilmu.
Mungkin kalian bertanya, "Pak, kenapa adab lebih penting? Bukannya kalau kita pintar, kita pasti sukses?"
Nak, izinkan Bapak berbagi sebuah rahasia kecil dari pengalaman bertahun-tahun mengajar.
Ilmu itu ibarat air yang jernih. Ia hanya akan mengalir dan menetap di tempat yang lebih rendah dan tenang. Hati yang rendah hati, yang penuh hormat kepada guru dan orang tua, adalah wadah terbaik untuk menampung ilmu.
Sebaliknya, kesombongan adalah penghalang terbesar masuknya ilmu. Orang yang merasa dirinya sudah pintar, biasanya sulit menerima masukan. Jika pun ia cerdas secara otak, ilmunya seringkali tidak membawa ketenangan atau keberkahan.
Sebuah Kisah Nyata (Tanpa Nama)
Bapak teringat dua orang alumni madrasah kita, belasan tahun yang lalu. Mari kita sebut saja mereka "Si Jenius" dan "Si Santun".
Si Jenius ini otaknya cemerlang. Selalu juara umum. Tapi sayang, ia merasa lebih pintar dari gurunya. Jika ditegur, ia membantah. Jika bertemu guru di jalan, ia pura-pura tidak lihat. Ia jarang sekali meminta doa restu pada orang tuanya karena merasa bisa sukses dengan usahanya sendiri.
Di sisi lain, ada Si Santun. Nilai akademiknya biasa saja, kadang di atas rata-rata, kadang pas-pasan. Matematika sering remedial. Tapi, Masya Allah, adabnya luar biasa. Setiap bertemu guru, ia selalu menyapa dan mencium tangan dengan takzim. Jika diminta tolong menghapus papan tulis, ia kerjakan dengan senyum. Doa restu orang tua dan guru adalah senjata utamanya.
Di mana mereka sekarang?
Tahun lalu Bapak mendengar kabar mereka. Si Jenius memang bekerja di perusahaan besar, tapi hidupnya penuh konflik.Ia sering pindah kerja karena tidak cocok dengan atasan, dan hubungannya dengan keluarga kurang harmonis. Ilmunya tinggi, tapi hatinya gelisah.
Sedangkan Si Santun, kini ia menjadi tokoh masyarakat yang dihormati di kampungnya. Usahanya lancar, dan yang paling penting, hidupnya tenang dan bahagia dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
Apa yang membedakan mereka? Keberkahan.
Anakku, guru adalah perantara (wasilah) sampainya ilmu dari Allah kepada kalian. Jika saluran perantaranya kalian sumbat dengan rasa tidak hormat, bagaimana mungkin ilmunya bisa mengalir dengan berkah? Begitu juga dengan orang tua, ridho Allah ada pada ridho mereka.
Di MTsN 1 Lebak ini, kami tidak hanya ingin mencetak robot-robot penghafal rumus yang pintar tapi berhati dingin.Kami ingin mencetak manusia yang berakal cerdas dan berhati mulia.
Jadi, mulai hari ini, jika kalian bertemu Bapak/Ibu guru, sapalah dengan senyum tulus. Jika orang tua kalian menasihati,dengarkan dengan tawadhu. Karena di situlah kunci pintu kesuksesan yang sesungguhnya.
Jadilah pintar, tapi jangan lupa untuk tetap beradab.
Fajar Satria Utama, S.Kom., M.Pd.